by : @mayasiskaa
Menghujani hatiku I’ ve never had the words to sayBut now I’m askin’ you to stayFor a little while inside, my armsAnd as you close your eyes tonightI pray that you will see the lightThe shining from the stars, above Terhanyut
aku tak sadar telah menirukan disetiap
bait dari lagu “more than this” yang terdengar melalui headphoneku, tersadar
bahwa aku telah sampai didepan toko buku, aku sengaja tidak mematikannya karena
aku membenci keramaian dan suara suara yang memang tak ingin aku dengar.Satu
buku, dua, tiga, empat aku memilah dan memilih deretan buku buku yang tertata
rapi dalam raknya, jujur saja aku sangat suka membaca, terutama membaca novel
novel remaja. Tiba tiba saja bruukkkk… “maaf maaf” seseorang menabrakku yang
dengan pasti membuat semua buku yang kubawa menjadi jatuh berantakkan dilantai.
Tentu dengan dongkol aku merapihkannya dengan segera karena malu semua mata
sedang menatap kearahku sekarang ini. Tak berhenti di situ orang itupun
langsung berlutut dan membantuku merapihkan buku bukuku setelah semuanya
selesai dia langsung pergi begitu saja. Seketika aku hanya bengong dan terpaku
melihat sosok itu berlalu, tak lama setelah itu aku baru tersadarkan bahwa dia
meninggalkan sesuatu disini, saat aku melihatnya ternyata ini sebuah buku yang
berjudul “hujan” yang pasti itu sangat tebal dan aku tak akan membaca buku buku
seperti itu.“aahhh
sepertinya dia meninggalkan bukunya disini, aaiiss bagaimana aku bisa
mengembalikan ini?” gumamku dalam hati. Kemudian aku kekasir untuk membaya
semuanya.Luv youuu, luv you
yeongwoninii suara hapeku berdering disisi kanan kasur dan”emmaaaa…. Mian aku
lupa kalau kamu ngjak ketoko buku hari ini, maaf banget yaa” suara keras itu
berasal dari sebrang telpon dari sahabatku
satizah.“ya ya ya aku sudah menduga
sedari awal karena kamu sangat pelupa, heheh” jawabku sambil sedikit
menggodanya.“haaahh kurang ajar kamu,
hehe oiya nanti malam kita cari makan keluar yuk emm?? Mau yah yah yah aku yang
traktir deeh!!” suaranya memelas menunggu kepastianku.
“eemmm bener yaa?? Hehe oke
aku ikut” jawabku singkat. “assaaa gitu dong, kita ketemu di café biasa
yah, jam 7 uda disana, fix?” lanjutnya kemudian. “siap bos tizah cantiik” aku
mengiyakannya. Tuuutt telpon terputus setelahnya. Pukul 6.30 aku bersiap untuk pergi cari makan dengan
tizah, lalu aku memasukkan beberapa buku kedalam tasku dimeja belajar, memakai
sweater, memakai sepatu kemudian beragkat dengan berjalan kaki, karena
kebetulan jarak antara café dan kontrakanku tidak terlalu jauh. Setelah sampai
ternyata aku datang lebih dulu daripada tizah, tiba tiba ada sesuatu yang
menjadi pusat perhatianku.“dia? Lakilaki itu,
bukankah dia orang yang di toko buku tadi pagi? Bener gak sih?” gumamku.
“yaakk!! Emma aku telat ya?
Maaf ya” tiba tiba tizah datang dan membuyarkan lamunanku.
“ eehh tizah kamu ngagetin
aja, enggak kok aku tadi yang datang lebih awal” aku menjawab dengan terkejut.
Dan saat aku kembali mencari laki laki itu, dia sudah tak lagi dsana, ditempat
yang kulihat sebelumnya.“ emma!! Kamu liatin apaan
sih? Emang disana ada apa? Huh? Dari tadi bengong aja kayak kambing congek.
Hahah” tizah kembali mengagetkanku“ aahh enggak kok, yudah
kita masuk sekarang yuk, uda laper nih” aku mengalihkan pembicaraan lalu masuk
kedalam café dengan sesekali aku melirik ke sekeliling tempat itu untuk mencari
laki laki tadi, dan tidak lagi disana tentunya. Kamipun masuk dan memesan makanan makanan masing masing,
sembari menunggu pesanan kami datang, aku mengeluarkan salah satu buku yang
pagi tadi baru ku beli.“wow emma sejak kapan kamu
baca buku setebel ini nih? Wiihh kemajuan!!” tizah tiba tiba mengambil sebuah
buku begitu saja dari tasku, seperti biasanya tidak pernah ada privasi diantara
kami.“ ohh enggak kok, itu bukan
punyaku” jawabku singkat“ emmaaaa kamu nyolooong?”
tizah berbica sedikit berteriak sehingga membuat orang orang disekitar kami
menatap kearahku.“ ssstttt tizah kamu ngaco
apa? Gila aja aku main nyolong gituan, itu bukan punyaku tapi milik seseorang
yang ketinggalan ditempat aku beli buku tadi pagi, jadi aku bawa deh” aku
menjelaskan dengan perlahan kepada tizah“ oohhh kirain, eehh tapi
ngapain kamu bawa? Kan kamu bisa nitipin dikasir, siapa tau orangnya nyariin
kan?” dia menguraikan beberapa pemikiran. Karena tizah memang seorang perempuan
yang sangat bisa untuk berfikir realistis dalam keadaan yang benar benar
genting.“omaigat tizaaah aku juga
baru sadar sekarang, terus gimana doooong?? Kamu sih tadi gak ikut, kan aku
jadi gak mikir bener tadi” jawabku penuh penyesalan.“haahh terlambat emma
sayang, yudah nanti kita bicarakan lagi gimana cara ngembaliinnya, sekarang ini
kita makan dulu, arra?” tuturnya kemudianBeberapa saat kemudian kami
berdua telah selesai makan dan tizah yang membayarnya seperti yang
dijanjikannya lalu kami keluar dari café bersama sama.“oiya emma maaf ya kita gak
bisa pulang bareng, soalnya aku disuruh mama beli sesuatu ketoko sebrang jalan
nih” tiba tiba tizah harus pergi dan dengan demikian kita harus berpisah dari
café ini.“ aahh iya tizah gapapa
kok, kalau gitu aku juga mau cari keperluan kuliah juga” aku mengiyakan
“bener gapapa? Yaudah aku
duluan yah? Bye emma, nanti kalau ada apapa sms yah?” jelasnya yang penuh
dengan perhatian. Benar saja, aku memang tinggal sendirian dikota besar seperti
Surabaya ini, dan aku tak pernah banyak berbicara kecuali dengan latizah atau
orang orang dikampus, itupun mungkin hanya seperlunya, dan tizah sangat
mengerti tentang itu. Aku bersyukur masih memiliki sahabat seperti latizah.“ hmmm iya tizah I’m fine,
sip aku pasti kasih kabar kamu kok” jawabku dengan senyuman yang mengembang.Akhirnya kami berjalan
terpisah, aku pergi kearah utara dan tizah kearah selatan.“hah
menyebalkan sekali, hari sabtu gini tizah gabisa nemenin aku dikontrakan atau
sekedar jalan jalan” aku berjalan dengan menggerutu karena sedikit kecewa.Saat aku berjalan menyusuri
trotoar jalan, sesuatu secara tidak sengaja terbersit dalam benakku.“aahh iyaa buku itu,
seperti apa sih selera baca orang itu, kenapa tebel banget bukunya, nyoba liat
aahh” gumamku penasaran dengan isi tersebut dan kemudian mengeluarkannya dari
dalam tasku,“hujan?, aneh banget
judulnya aja cuma hujan, hehehe pasti orang yang punya buku ini kepribadiannya
membosankan banget, hahah” terka terkaku sok tau sambil terkekeh kecil sendiri.
Baru saja aku membuka covernya, lembar per lembar aku melihatnya, sampai pada
di kalimat pertama “hujan api, dan asap,”
tiba tiba byuuurrr tik tik tik hujan turun dengan tiba tiba sekali, dengan
reflex aku langsung melindungi kepalaku dari hujan dengan buku tersebut dan
berlari mencari tempat berteduh sampai aku berhenti di sebuah halte bus.“ haahh apa ini sebuah
kebetulan? Baru aja aku baca buku yang
judulnya hujan, eehh kenapa langsung hujan, padahal ini kan terang banget
mataharinya” gerutuku kesal.Karena
sangat penasaran aku kembali membuka buku tersebut dan berniat membaca lanjutan
kalimat yang sempat terpenggal tadi.“huj….” belum sempat aku
melanjutkan kalimatku tiba tiba“hujan,
api maupun asap tak pernah bisa bersatu, pada saatnya hujan akan memadamkan
api, maupun api yang berkobar kobar tak membiarkan hujan mengalahkannya, dan
ketika hujan yang sekalipun tak pernah bisa menghapus sang asap. Sampai
kapanpun itu tidak akan bisa, tapi asap dan api selalu terkait satu sama lain.
Dan ketiga unsure tersebut tetap berada dialam semesta yang besar ini”
ucapannya dengan sedikit senyuman sambil melihat sedikit kearahku. sesosok yang
tiba tiba saja berbicara panjang lebar, dan ternyata itu semua tertulis dalam
bait pertama buku dengan judul “hujan” ini.“ haaaah wow” ucapku
singkat dengan ekspresi melongo karena terkagum kagum.Tiba tiba saja orang itu
membungkuk dihadapanku dengan jarak yang hanya beberapa centi saja dari
wajahku.“ cepp, tutup mulutmu sebelum
lalat lalat ini akan menjadi penghuni rongga mulutmu. Heheh” nada bicaranya
yang sangat menyebalkan sambil menutup mulutku yang menganga dengan menjepitkan
kedua tangannya.“iisss” jawabku jengkel
sambil segera menyingkirkan tangannya dari bibirku.Orang itu hanya terkekeh
lalu berdiri dari hadapanku dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku
celananya dan duduk disebelahku dengan melipat kakinya, dan kamipun tetap diam
di halte bus dibawah guyuran hujan yang deras di malam hari.
“ ah iya maaf mungkinkah kamu orang yang ada di toko buku
pagi tadi?” kataku membuka pembicaraan.“ hmm” jawabnya yang
singkat dan tanpa melihat kearahku.“ eemm ini buku kamu kan?,
tadi kamu meninggalkannya dengan buku bukuku, dan maaf uda gak sopan baca buku
orang lain” uraiku menjelaskannya.“ itu buku kamu sekarang,
dan kita bukan orang lain” jawabnya
kemudian.Akupun seketika sangat
terkejut dan menatap tajam kearahnya, seakan mengartikan banyak pertanyaan.“ itu buat kamu, buku itu
adalah tentang kamu, emma mayankee seew” lanjutnya kemudian“ huh, gimana dia tau aku?
Tau namaku? Tidaak jangan jangan?” gumamku dalam hati“ hehehe berhenti berfikir
buruk tentangku emma, dengarkan aku baik baik” lanjutnya lagi dengan menggoyang
pundakku untuk dapat berhadapan dengannya sekarang.Saat ini, jantungku rasanya
berdegup 100 kali lebih cepat, dan aku hanya bisa menelan ludahku sendiri
karena merasa sangat gugup berada tepat didepannya dan melakukan kontak mata
dengan sosok itu. Seperti kami telah lama mengenal.“kenapa aku mengatakan kamu
sepeti buku itu? Karena bagiku adalah seperti hujan malam ini, kamu begitu
dingin seakan tak memperdulikan hal lain” jelasnya“ huh?” jawabku semakin
kebingungan“ jika kamu hujan maka
sesekali dengan segala ketenanganmu kamu dapat memadamkan kobaran api sepertiku
sekalipun, meskipun masalahmu sendiri adalah mengalahkan bayangan masa lalumu
sendiri yang sebenarnya ada di balik bayangan dariku” urainya lagi dan lagi.“ ah permisi, sebenarnya
apa yang kamu maksutkan, aku bener bener gak ngerti” sanggahku kemudian“ emma, selama 2 tahun ini
sebenernya aku telah memperhatikanmu, karena aku adalah abhar, teman kecilmu
dulu, Dan aku telah menemukanmu sekarang” jawabnya sembari terus menatapku
lembut.Seketika badanku terasa melemas, aku tak mampu lagi
menatap pandangan itu, maka aku hanya diam membayangkan kisah masa kecilku
bersama orang itu, ya dia cinta pertamaku, abhar.Ketika malam itu seperti sesuatu
yang besar telah menghujani hatiku dengan sebuah perasaan yang sangat tidak aku
mengerti. Tapi itu membahagiakanku. -END-