Senin, 22 September 2014

menghujani hatiku

by : @mayasiskaa


Menghujani hatiku I’ ve never had the words to sayBut now I’m askin’ you to stayFor a little while inside, my armsAnd as you close your eyes tonightI pray that you will see the lightThe shining from the stars, above Terhanyut  aku tak sadar telah menirukan disetiap bait dari lagu “more than this” yang terdengar melalui headphoneku, tersadar bahwa aku telah sampai didepan toko buku, aku sengaja tidak mematikannya karena aku membenci keramaian dan suara suara yang memang tak ingin aku dengar.Satu buku, dua, tiga, empat aku memilah dan memilih deretan buku buku yang tertata rapi dalam raknya, jujur saja aku sangat suka membaca, terutama membaca novel novel remaja. Tiba tiba saja bruukkkk… “maaf maaf” seseorang menabrakku yang dengan pasti membuat semua buku yang kubawa menjadi jatuh berantakkan dilantai. Tentu dengan dongkol aku merapihkannya dengan segera karena malu semua mata sedang menatap kearahku sekarang ini. Tak berhenti di situ orang itupun langsung berlutut dan membantuku merapihkan buku bukuku setelah semuanya selesai dia langsung pergi begitu saja. Seketika aku hanya bengong dan terpaku melihat sosok itu berlalu, tak lama setelah itu aku baru tersadarkan bahwa dia meninggalkan sesuatu disini, saat aku melihatnya ternyata ini sebuah buku yang berjudul “hujan” yang pasti itu sangat tebal dan aku tak akan membaca buku buku seperti itu.“aahhh sepertinya dia meninggalkan bukunya disini, aaiiss bagaimana aku bisa mengembalikan ini?” gumamku dalam hati. Kemudian aku kekasir untuk membaya semuanya.Luv youuu, luv you yeongwoninii suara hapeku berdering disisi kanan kasur dan”emmaaaa…. Mian aku lupa kalau kamu ngjak ketoko buku hari ini, maaf banget yaa” suara keras itu berasal dari sebrang telpon dari sahabatku  satizah.“ya ya ya aku sudah menduga sedari awal karena kamu sangat pelupa, heheh” jawabku sambil sedikit menggodanya.“haaahh kurang ajar kamu, hehe oiya nanti malam kita cari makan keluar yuk emm?? Mau yah yah yah aku yang traktir deeh!!” suaranya memelas menunggu kepastianku.
“eemmm bener yaa?? Hehe oke aku ikut” jawabku singkat. “assaaa gitu dong, kita ketemu di café biasa yah, jam 7 uda disana, fix?” lanjutnya kemudian. “siap bos tizah cantiik” aku mengiyakannya. Tuuutt telpon terputus setelahnya.            Pukul 6.30 aku bersiap untuk pergi cari makan dengan tizah, lalu aku memasukkan beberapa buku kedalam tasku dimeja belajar, memakai sweater, memakai sepatu kemudian beragkat dengan berjalan kaki, karena kebetulan jarak antara café dan kontrakanku tidak terlalu jauh. Setelah sampai ternyata aku datang lebih dulu daripada tizah, tiba tiba ada sesuatu yang menjadi pusat perhatianku.“dia? Lakilaki itu, bukankah dia orang yang di toko buku tadi pagi? Bener gak sih?” gumamku.
“yaakk!! Emma aku telat ya? Maaf ya” tiba tiba tizah datang dan membuyarkan lamunanku.
“ eehh tizah kamu ngagetin aja, enggak kok aku tadi yang datang lebih awal” aku menjawab dengan terkejut. Dan saat aku kembali mencari laki laki itu, dia sudah tak lagi dsana, ditempat yang kulihat sebelumnya.“ emma!! Kamu liatin apaan sih? Emang disana ada apa? Huh? Dari tadi bengong aja kayak kambing congek. Hahah” tizah kembali mengagetkanku“ aahh enggak kok, yudah kita masuk sekarang yuk, uda laper nih” aku mengalihkan pembicaraan lalu masuk kedalam café dengan sesekali aku melirik ke sekeliling tempat itu untuk mencari laki laki tadi, dan tidak lagi disana tentunya.            Kamipun masuk dan memesan makanan makanan masing masing, sembari menunggu pesanan kami datang, aku mengeluarkan salah satu buku yang pagi tadi baru ku beli.“wow emma sejak kapan kamu baca buku setebel ini nih? Wiihh kemajuan!!” tizah tiba tiba mengambil sebuah buku begitu saja dari tasku, seperti biasanya tidak pernah ada privasi diantara kami.“ ohh enggak kok, itu bukan punyaku” jawabku singkat“ emmaaaa kamu nyolooong?” tizah berbica sedikit berteriak sehingga membuat orang orang disekitar kami menatap kearahku.“ ssstttt tizah kamu ngaco apa? Gila aja aku main nyolong gituan, itu bukan punyaku tapi milik seseorang yang ketinggalan ditempat aku beli buku tadi pagi, jadi aku bawa deh” aku menjelaskan dengan perlahan kepada tizah“ oohhh kirain, eehh tapi ngapain kamu bawa? Kan kamu bisa nitipin dikasir, siapa tau orangnya nyariin kan?” dia menguraikan beberapa pemikiran. Karena tizah memang seorang perempuan yang sangat bisa untuk berfikir realistis dalam keadaan yang benar benar genting.“omaigat tizaaah aku juga baru sadar sekarang, terus gimana doooong?? Kamu sih tadi gak ikut, kan aku jadi gak mikir bener tadi” jawabku penuh penyesalan.“haahh terlambat emma sayang, yudah nanti kita bicarakan lagi gimana cara ngembaliinnya, sekarang ini kita makan dulu, arra?” tuturnya kemudianBeberapa saat kemudian kami berdua telah selesai makan dan tizah yang membayarnya seperti yang dijanjikannya lalu kami keluar dari café bersama sama.“oiya emma maaf ya kita gak bisa pulang bareng, soalnya aku disuruh mama beli sesuatu ketoko sebrang jalan nih” tiba tiba tizah harus pergi dan dengan demikian kita harus berpisah dari café ini.“ aahh iya tizah gapapa kok, kalau gitu aku juga mau cari keperluan kuliah juga” aku mengiyakan
“bener gapapa? Yaudah aku duluan yah? Bye emma, nanti kalau ada apapa sms yah?” jelasnya yang penuh dengan perhatian. Benar saja, aku memang tinggal sendirian dikota besar seperti Surabaya ini, dan aku tak pernah banyak berbicara kecuali dengan latizah atau orang orang dikampus, itupun mungkin hanya seperlunya, dan tizah sangat mengerti tentang itu. Aku bersyukur masih memiliki sahabat seperti latizah.“ hmmm iya tizah I’m fine, sip aku pasti kasih kabar kamu kok” jawabku dengan senyuman yang mengembang.Akhirnya kami berjalan terpisah, aku pergi kearah utara dan tizah kearah selatan.“hah menyebalkan sekali, hari sabtu gini tizah gabisa nemenin aku dikontrakan atau sekedar jalan jalan” aku berjalan dengan menggerutu karena sedikit kecewa.Saat aku berjalan menyusuri trotoar jalan, sesuatu secara tidak sengaja terbersit dalam benakku.“aahh iyaa buku itu, seperti apa sih selera baca orang itu, kenapa tebel banget bukunya, nyoba liat aahh” gumamku penasaran dengan isi tersebut dan kemudian mengeluarkannya dari dalam tasku,“hujan?, aneh banget judulnya aja cuma hujan, hehehe pasti orang yang punya buku ini kepribadiannya membosankan banget, hahah” terka terkaku sok tau sambil terkekeh kecil sendiri. Baru saja aku membuka covernya, lembar per lembar aku melihatnya, sampai pada di kalimat pertama “hujan api, dan asap,” tiba tiba byuuurrr tik tik tik hujan turun dengan tiba tiba sekali, dengan reflex aku langsung melindungi kepalaku dari hujan dengan buku tersebut dan berlari mencari tempat berteduh sampai aku berhenti di sebuah halte bus.“ haahh apa ini sebuah kebetulan?  Baru aja aku baca buku yang judulnya hujan, eehh kenapa langsung hujan, padahal ini kan terang banget mataharinya” gerutuku kesal.Karena sangat penasaran aku kembali membuka buku tersebut dan berniat membaca lanjutan kalimat yang sempat terpenggal tadi.“huj….” belum sempat aku melanjutkan kalimatku tiba tibahujan, api maupun asap tak pernah bisa bersatu, pada saatnya hujan akan memadamkan api, maupun api yang berkobar kobar tak membiarkan hujan mengalahkannya, dan ketika hujan yang sekalipun tak pernah bisa menghapus sang asap. Sampai kapanpun itu tidak akan bisa, tapi asap dan api selalu terkait satu sama lain. Dan ketiga unsure tersebut tetap berada dialam semesta yang besar ini” ucapannya dengan sedikit senyuman sambil melihat sedikit kearahku. sesosok yang tiba tiba saja berbicara panjang lebar, dan ternyata itu semua tertulis dalam bait pertama buku dengan judul “hujan” ini.“ haaaah wow” ucapku singkat dengan ekspresi melongo karena terkagum kagum.Tiba tiba saja orang itu membungkuk dihadapanku dengan jarak yang hanya beberapa centi saja dari wajahku.“ cepp, tutup mulutmu sebelum lalat lalat ini akan menjadi penghuni rongga mulutmu. Heheh” nada bicaranya yang sangat menyebalkan sambil menutup mulutku yang menganga dengan menjepitkan kedua tangannya.“iisss” jawabku jengkel sambil segera menyingkirkan tangannya dari bibirku.Orang itu hanya terkekeh lalu berdiri dari hadapanku dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya dan duduk disebelahku dengan melipat kakinya, dan kamipun tetap diam di halte bus dibawah guyuran hujan yang deras di malam hari.
            “ ah iya maaf mungkinkah kamu orang yang ada di toko buku pagi tadi?” kataku membuka pembicaraan.“ hmm” jawabnya yang singkat dan tanpa melihat kearahku.“ eemm ini buku kamu kan?, tadi kamu meninggalkannya dengan buku bukuku, dan maaf uda gak sopan baca buku orang lain” uraiku menjelaskannya.“ itu buku kamu sekarang, dan kita bukan orang lain”  jawabnya kemudian.Akupun seketika sangat terkejut dan menatap tajam kearahnya, seakan mengartikan banyak pertanyaan.“ itu buat kamu, buku itu adalah tentang kamu, emma mayankee seew” lanjutnya kemudian“ huh, gimana dia tau aku? Tau namaku? Tidaak jangan jangan?” gumamku dalam hati“ hehehe berhenti berfikir buruk tentangku emma, dengarkan aku baik baik” lanjutnya lagi dengan menggoyang pundakku untuk dapat berhadapan dengannya sekarang.Saat ini, jantungku rasanya berdegup 100 kali lebih cepat, dan aku hanya bisa menelan ludahku sendiri karena merasa sangat gugup berada tepat didepannya dan melakukan kontak mata dengan sosok itu. Seperti kami telah lama mengenal.“kenapa aku mengatakan kamu sepeti buku itu? Karena bagiku adalah seperti hujan malam ini, kamu begitu dingin seakan tak memperdulikan hal lain” jelasnya“ huh?” jawabku semakin kebingungan“ jika kamu hujan maka sesekali dengan segala ketenanganmu kamu dapat memadamkan kobaran api sepertiku sekalipun, meskipun masalahmu sendiri adalah mengalahkan bayangan masa lalumu sendiri yang sebenarnya ada di balik bayangan dariku” urainya lagi dan lagi.“ ah permisi, sebenarnya apa yang kamu maksutkan, aku bener bener gak ngerti” sanggahku kemudian“ emma, selama 2 tahun ini sebenernya aku telah memperhatikanmu, karena aku adalah abhar, teman kecilmu dulu, Dan aku telah menemukanmu sekarang” jawabnya sembari terus menatapku lembut.Seketika  badanku terasa melemas, aku tak mampu lagi menatap pandangan itu, maka aku hanya diam membayangkan kisah masa kecilku bersama orang itu, ya dia cinta pertamaku, abhar.Ketika malam itu seperti sesuatu yang besar telah menghujani hatiku dengan sebuah perasaan yang sangat tidak aku mengerti. Tapi itu membahagiakanku.                                                            -END-